Di Tahun 2017, Kepemilikan Rumah Akan Semakin Mudah

Pemerintah akan terus bertekad memberikan kemudahan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah untuk memiliki rumah dengan kondisi layak huni. Jika seseorang sudah mampu tinggal pada hunian yang layak, tentu saja ini akan memangkas anggaran.

Laju pertumbuhan properti di Indonesia tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai lokomatif dari 135 lebih industri yang ada di Indonesia, sektor properti akan tetap menjadi prioritas pemerintah di tahun 2017.

Tri Dewi Virgiyanti, Direktur Perkotaan Perumahan dan Permukiman Bappenas Republik Indonesia mengatakan naik dan turunnya perkembangan properti juga bersifat global. Menurutnya, sektor ini memiliki peran signifikan dalam pertumbuhan ekonomi, baik lingkup domestik maupun global. Tidak heran jika kondisi ekonomi global sedang ‘lesu’ pun bisa berimbas kepada perkembangan properti di Indonesia,

  1. Berdasarkan data Statistik Perumahan dan Permukiman BPS tahun 2013, kondisi kepemilikan properti di Indonesia sebagai berikut:
  2. Proporsi rumah tangga yang tinggal di hunian milik 78,7%
  3. 11,8 juta rumah tangga tidak memiliki rumah (tidak tinggal di rumah milik sendiri, dan tidak memiliki rumah di tempat lain)
  4. 3,1 juta rumah tangga memiliki rumah lebih dari satu.
  5. 3,4 juta rumah tangga tinggal di rumah tidak layak huni.

Berdasarkan data tersebut, menurut Tri Dewi pemerintah akan terus bertekad memberikan kemudahan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah untuk memiliki rumah dengan kondisi layak huni. Jika seseorang sudah mampu tinggal pada hunian yang layak, tentu saja ini akan memangkas anggaran kesehatan, yang faktanya sudah terkuras cukup banyak,

KPR Ikut Terkena Dampak Positif

Tahun ini, masyarakat juga masih bisa sedikit lega. Pasalnya, kebijakan pelonggaran LTV periode Juni 2015 mampu menahan penurunan lebih dalam dari KPR. Meskipun belum cukup kuat untuk meningkatkan pertumbuhan KPR.

Di tahun 2016 lalu, pertumbuhan KPR meningkat pasca pelonggaran LTV pada Agustus 2016. Dari sebesar 6,21% (yoy) menjadi 6,48% (yoy) pada September 2016. Berdasarkan jenisnya, KPR tipe 22-70 dan KPA tipe < 21 mengalami pertumbuhan tertinggi

Penjualan properti residensial pada dua triwulan terakhir (tw.2 dan tw.3 2016) terus mengalami kenaikan. Peningkatan tersebut terjadi terutama pada rumah tipe kecil sejalan dengan program pembangunan rumah murah yang dicanangkan pemerintah. Meskipun penjualan meningkat, namun pertumbuhan harga properti masih dalam tren yang melambat.

Di tahun 2017 ini, kebijakan pemerintah selanjutnya akan menguatkan pasar properti. Salah satunya dengan menguatkan Program Makroprudensial.

Program Makroprudensial merupakan penerapan prinsip kehati-hatian pada sistem keuangan guna menjaga keseimbangan antara tujuan makroekonomi dan mikroekonomi. Sistem ini akan mengatur sistem keuangan secara menyeluruh dan tidak memokuskan pada tingkat kesehatan individu dalam sistem keuangan seperti perbankan, korporasi, rumah tangga, IKNB, pasar keuangan, dan infrastruktur keuangan,

Diolah dari laman: rumah.com & liputan6.com